Minggu, 02 November 2014

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia


***Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia***



Aksi – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen membawa beberapa tulisan berisi kecaman mengenai kasus-kasus yang menimpah awak media di depan Gedung Sate, Kamis (03/05), aksi ini merupakan bentuk proses para jurnalis terhadap kasus kekerasan yang menimpah jurnalis. (Rizal Fadillah S)


Bandung -- Memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh tiap 3 Mei, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung tahun ini tanpa bosan kembali menyerukan penghentian impunitas atau aksi kekerasan terhadap jurnalis di depan Gedung Sate Kota Bandung, Sabtu (03/05). Dalam beberapa orasinya para jurnalis menyerukan beberapa kasus yang menimpah rekan wartawan yang mendapatkan kekerasan dan aparat didesak untuk mengungkap sejumlah kasus yang masih tergantung.

Dalam aksi yang dimulai sejak pukul 09.00 tersebut Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengajak semua pihak untuk menjungjung hak kebebasan pers demi kepentingan publik. Pers dan media massa idealnya hidup di dalam kebebasan. Karena itulah ruang redaksi sudah seharusnya steril dari kepentingan pemilik media massa atau pemilik modal, iklan, serta intervensi pihak lain pada isi berita. Bahkan, ruang redaksi harus steril dari kepentingan pribadi jurnalis itu sendiri.

Namun faktanya sampai hari ini, belum semua media massa sanggup hidup di alam kebebasan pers. Padahal kebebasan pers sudah dijamin Undang-undang. Hanya saja adanya celah dalam aturan selalu dimamfaatkan oknum tertentu sehingga sebagai media massa masih menjadi atau dijadikan corong suara dan kepentingan pihak tertentu oleh pemilik modal atau pengelola.

Beberapa kasus kekerasan yang dipaparkan AJI antara lain sejak 1996 itu tercatat setidaknya ada delapan kasus pembunuhan jurnalis, seperti Naimullah jurnalis Sinar Pagi pada 25 Juli 1997, Agus Mulyawan Jurnalis Asia Prees pada 25 September 1999 di Timor timur, Muhammad Jamaluddin Kameramen TVRI pada 17 Juni 2003, Ersa Siregar Jurnalis RCTI pada 29 Desember 2003 di Aceh, Herliyanto Jurnalis lepas tabloid Deltas Pos Sidoarjo pada 29 April 2006, Adriansyah Matra'is Wibisono jurnalis TV lokal Merauke pada 29 Juli 2010, Alfred Mirulewan jurnalis Tabloid Pelangi pada 18 Desember 2010, dan yang terakhir kasus pembuhunan terhadap jurnalis Radar Bali, Prabangsa yang ditemukan tewas di pantai Padang Bali pada 11 Februari 2009.

Seperti yang diungkapkan ketua Aliansi Jurnalis Independen, Adi Marseli, dirinya sangat mengecam oknum-oknum yang mempermainkan ranah media sebagai corong suara selain itu Adi berharap kasus-kasus kekerasan yang menimpah rekan wartawan segera dituntaskan, dan bagi para pelaku semoga dihukum seberat-beratnya.


"Ini merupakan aksi solidaritas dari kami Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung untuk menegakan hukum tentang kasus yang menimpah rekan kami, salah satunya kasus yang menimpah Fuad Muhammad Syarifuddin (Udin) jurnalis Harian Bernas Yogjakarta yang dibunuh 18 tahun yang lalu, dan sampai saat ini belum tertangkap pelakunya, meski dulu polisi sempat menahan Dwi Sumadji namun pengadilan negeri Bantul kembali membebaskannya karena Dwi Sumadji terbukti tidak bersalah," Ujarnya kepada BandungOke.com, Kamis (03/05).

Selain itu Adi menambahkan Aliasi Jurnalis Independen (AJI) menyerukan kepada semua pihak supaya tidak memberikan amplop atau suap terkait pemberitaan. Imbalan atau suap merupakan salah satu belenggu kebebasan pers. Berita bukanlah pesanan pihak tertentu, bukan juga komoditas yang bisa diperjualbelikan. Selain itu Aji Bandung meminta semua pihak menghormati kebebasan berekpresi di dunia pendidikan, khususnya kampus. Kampus harus menghormati daya kritis mahasiswa sebagai agen perubahan. AJI Bandung mengecam pihak kampus yang membungkam sikap kritis mahasiswanya.


"Satu lagi yang menjadi penyakit, banyak para petinggi yang memberika amplop (uang) terhadap para jurnalis, itu merupakan tingakan suap, saya beserta kawan yang lainnya mengajak semua jurnalis untuk tidak menerima suap berupa apapun demi keindependenan suatu berita, dan saya berharap kepada seluruh kampus untuk tidak membatasi atau membungkam kreatifitas mahasiswanya karena itu merupakan hak kebebasan berekspresi," Tandasnya. (Rizal Fadillah S).

0 komentar:

Posting Komentar

follow

Mengenai Saya

Foto saya
Akun Lainnya : Twitter&Instagram : @Rizalfadillah Facebook : Rizal Fadillah Siptriandy