
Demo
– Salah seorang mahasiswa membawa kertas yang bertuliskan “Khilafah Mainstream
Perjuangan Mahasiswa”, Tulisan tersebut menjadi symbol dari suara mahasiswa
yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang melakukan orasinya di
lapangan Gasibu, Minggu (02/03).(Rizal Fadillah S)
BANDUNG
-- Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan berkumpul di
lapangan Gasibu, Minggu (02/03), untuk menyerukan apresiasinya menolak beberapa
kebijakan pemerintah yang dinilai gagal dalam mensejaterahkan rakyat indonesia
dengan sistem demokrasinya yang mati.
Dalam
sela-sela demo, mahasiswa melakukan teatrikal yang menggambarkan kejamnya rezim
pemerintahan saat ini, banyak rakyat yang diinjak-injak oleh ideologi para
wakil rakyat yang lebih mengedepankan ideologinya, selain itu menurut mereka
Indonesia masih terjajah oleh negara-negara asing yang mencari keuntungan di
tanah air.
Muhfid
Dahlan (22), Kordinator demo ngatakan acara ini diselenggarakan untuk
menyatukan mahasiswa yang mempunyai mental keislaman dan meninggalkan sistem
demokrasi yang selama ini diterapkan di negara Indonesia, selain itu dalam
acara ini muhfid dan aktifis mahasiswa yang lainnya ingin mengoreksi kinerja
pemerintahan yang sekarang supaya tercipta komunikasi yang baik antara pemerintah
dengan mahasiswa, selain itu dirinya berharap pemerintah mau berdiskusi dengan
mahasiswa dan mendengar aspirasi mahasiswa yang tidak sepakat dengan sistem
demokrasi yang sekarang diterapkan di Indonesia.
"Saya
bersama ribuan mahasiswa disini berujung rasa dan meneriakan suara mahasiswa
sebagai bukti kecintaan kita terhadap Indonesia, dan kami semua menginginkan
perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik, sistem demokrasi yang sudah mati
pada zaman sekarang memperburuk keadaan negara ini, selain itu musuh yang
seharusnya di hancurkan itu adalah kapitalisme demokrasi yang menjadi akar
masalah dan musnahkan para koruptor yang menggasak uang rakyat," ujarnya
kepada BandungOke.com,Minggu (02/03).
Dalam
acara ini, mahasiswa Sekolah Tinggi Managemen Indonesia (STMI) Jakarta,
mengajak kepada seluruh mahasiswa Indonesia untuk bergabung dan sama-sama
bergerak memberantas para penguasa yang ideologinya hedonis, "Saya
berharap mahasiswa lainnya ikut andil dalam langkah perubahan ini, karena
mahasiswa sebagai generasi muda seharusnya tidak tinggal diam dengan sistem
rezim yang semakin menyengsarakan rakyat indonesia," Tambahnya.
Ditemui
ditempat yang sama, Mutakin mahasiswa STKS ngatakan dirinya dan teman-temannya
antusias mengikuti acara ini, meski dari kampusnya sendiri hanya mengirim 20
mahasiswa saja, namun tidak mengurangi semangat Mutakin dalam meneriakan
aspirasi mahasiswa.
"Acara
ini sangat bagus menurut saya, namun saya sedikit kecewa dengan respon
masyarakat yang ada disekitaran lapangan gasibu, karena mereka terkesan acuh
dan tidak peduli, padahal kami disini menjadi tongkat awal perubahan Indonesia
yang notabene negara mereka sendiri namun saya dan teman-teman yang lainnya
tetap bersemangat untuk menegakan kebenaran," tuturnya.
Selain
itu Firman (23) Pengurus pusat gerakan pembebasan dan salah satu pengunjuk rasa
dalam orasinya, mengatakan, "Indonesia sekarang ada dalam krisis
multidimensi sehingga menjadi sengsara, negara indonesia dari rezim Soeharto
sampai SBY masih menganut rezim kekerasan yang membuat rakyat sengsara dengan
kebijakan-kebijakannya" orasinya dihadapan ribuan mahasiswa.
Dalam
orasinya mahasiswa ingin mengubah sistem politik indonesia menjadi sistem
khilafah dan hukum-hukum syariat islam, mengecam penerapan politik penindasan,
dan dihancurkan sistem demokrasi. Selain mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa
Pembebasan, acara ini juga dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang berasal dari
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali dan Maluku. Acara yang digelar sejak
pagi hari ini rencana menjadi awal dari rangkaian demo yang selanjutnya akan
digelar di kota-kota besar di seluruh Indonesia.(Rizal Fadillah S)







0 komentar:
Posting Komentar